Penyuluh agama dilatih cegah radikalisme

Ketua Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme Kepri Reni Yusneli. Foto: Istimewa.

KARIMUN (KP): Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) bekerja sama dengan tokoh-tokoh agama akan menggelar dialog interaktif dan pelatihan membuat ayat-ayat damai dalam pencegahan radikalisme dan tindakan terorisme di Karimun pada 15 Agustus. Di samping itu, para penyuluh agama tingkat kecamatan juga dibekali dengan pemahaman anti radikal.

“Wilayah dan daerah Kepulauan Riau ini tak terlepas dari konteks politik, sosial, ekonomi, dan budaya yang bersifat lokal, nasional, maupun internasional. Penduduk Kepri yang hiterogen menuntut untuk saling menghargai satu sama lain,” kata Ketua FKPT Kepri Reni Yusneli dalam siaran persnya, Selasa (14/8/2018).

Kegiatan ini akan diikuti para penyuluh agama untuk mendapat pembekalan tentang pencegahan paham radikalisme dan tindakan terorisme. Dalam pelatihan ini, pemateri yang didatangkan adalah pejabat BNPT Letkol Setyo Pranowo, Taufik Hidayatullah, dan Ira Novita.

Melalui kehadiran narasumber tersebut diharapkan pemikiran para penyuluh agam lebih terbuka. Damai itu indah dan berpotensi merekatkan kohesi sosial anak-anak bangsa yang sekarang rentan retak.

“Termasuk meningkatkan toleransi, sekaligus menepis pengaruh radikal-terorisme. Hal ini amat sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia yang beragam agama, suku, bangsa dan bahasa,” sebut Reni.

Para peserta pelatihan dibekali teknik-teknik penulisan naskah dakwah. Para peserta juga akan berlomba membuat ayat-ayat damai.

Dengan pelatihan ini diharapkan, para penyuluh agama yang tersebar di seluruh kecamatan ikut andil dalam deteksi dini aksi terorisme. Sehingga, wilayah-wilayah yang rawan konflik itu bisa diminimalisir dan dideteksi secara cepat.

“Karena memang cuma Kementerian Agama yang punya penyuluh sampai ke bawah. Tinggal bagaimana ini dimanfaatkan maksimal oleh negara untuk meminimalisir segala persoalan-persoalan bangsa,” ucap Reni.

Sekarang, Indonesia dibelit penyakit intoleransi. Di sosial media juga sering ribut komentar. Tulisan berita bohong juga makin menonjol.

“Butuh pendekatan budaya untuk meredakan situasi kepada warganet yang berbeda pandangan politik,” sebut Reni.

REDAKSI

Spread the love

Berita terkait

*

*

Top