Lingga cari pihak ketiga kelola gula bit

Buah tanaman bit.

TANJUNGPINANG (KP): Badan Usaha Milik Daerah Kabupaten Lingga sedang mencari pihak ketiga untuk mengelola kebun tanaman bit. Pasalnya, lahan perkebunan sudah tersedia sekitar 300 hektare.

“Kami sedang mencari pihak ketiga untuk bekerja sama dengan BUMD Lingga. Ini program daerah,” kata Bupati Lingga Alias Wello (Awe) saat diwawancarai di Tanjungpinang, beberapa waktu lalu.

Seperti yang dilakukan dengan penanaman padi pada tahun lalu, Awe merintis dahulu. Di kemudian hari, penanaman sawah di Lingga menarik perhatian pemerintah pusat.

“Kita harus memulai dahulu. Setelah itu terserah pemerintah pusat,” ungkapnya.

Program yang dijalankan Awe bersama wakilnya, M Nizar, yaitu berbuat hal-hal positif dan diterima masyarakat.

Untuk diketahui, Awe sudah bertemu dengan Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto pada 16 Maret lalu. Ia melaporkan rencananya untuk membangun industri gula pasir dan gula merah berbahan baku dari umbi tanaman bit. Awe meminta dukungan atas rencana membangun industri gula dari umbi tanaman bit.

Awe mengaku tak sendirian untuk mewujudkan cita- cita besarnya itu. Ia didampingi salah seorang putra terbaik Indonesia yang sudah berpengalaman selama 40 tahun menangani industri gula bit di negara Jerman.

Hanya bermodalkan sekitar Rp35 miliar, industri gula bit mampu memproduksi gula pasir sekitar 12 ton dan gula merah sekitar 9 ton per hari. Lahan yang dibutuhkan hanya sekitar 150 hektare. Industri ini juga diharapkan mampu memberi kontribusi terhadap kebutuhan gula nasional yang dikabarkan masih mengalami defisit sekitar 3 juta ton per tahun.

Awe menyebutkan bahwa Menperin Airlangga masih ragu. Karena, belum ada bukti tanaman bit ini bisa hidup di Indonesia dan dapat dibudidaya secara massal.

Padahal, sejumlah uji coba sudah dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Tanaman bit ini bisa hidup di daerah tropis dan bisa panen hingga dua kali dalam setahun.

SURYA

Spread the love

Berita terkait

*

*

Top