Eks mantri BRI menangis dituntut 8 tahun

Erival Yudistira melihat ke arah penasihat hukumnya saat mendengar dituntut 8 tahun penjara di Pengadilan Tipikor Tanjungpinang, Jumat (4/5/2018). Foto: Surya.

TANJUNGPINANG (KP): Erival Yudistira (23) menangis mendengar tuntutan diajukan jaksa di persidangan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jumat (4/5/2018). Mantan mantri Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Kijang, Kecamatan Bintan Timur, Kabupaten Bintan, ini tak menyangka dituntut delapan tahun penjara.

Jaksa Penuntut Umum Gustian Juanda Putra dalam persidangan itu menyatakan, perbuatan Erival terbukti memenuhi unsur dakwaan kesatu primer yaitu pasal 2 juncto pasal 18 Undang-Undang Tipikor juncto pasal 55 KUHP. Tuntutan ini diajukan berdasarkan fakta persidangan.

“Kami menuntut terdakwa Erival selama delapan tahun penjara,” katanya.

Erival juga didenda Rp300 juta. Bila uang denda tak sanggup dibayar, hukumannya ditambah enam bulan kurungan.

Erival juga diwajibkan membayar kerugian negara Rp1.352.279.807. Bila uang negara tak sanggup diganti, maka hukumannya ditambah empat tahun penjara.

Mendengar tuntutan itu, Erival yang semual duduk tegak mulai terlihat “layu”. Ia menundukkan badannya sembari memandang ke arah penasihat hukumnya. Erival menggelengkan kepala seakan tak percaya dengan tuntutan setinggi itu.

Ketua Majelis Hakim Guntur Kurniawan menundan persidangan hingga pekan depan. Agenda selanjutnya, pembacaan nota pembelaan baik dari Erival maupun penasihat hukumnya Sri Ernawati.

Usai persidangan, Erival mulai menitikkan air mata. Ia menghubungi ibunya dengan telepon seluler milik penasihat hukumnya.

“Dua belas tahun,” ucapnya sembari menyeka air mata.

Setelah cukup lama berkonsultasi dengan penasihat hukum dengan menumpahkan kesedihannya, Erival digiring petugas ke mobil tahanan.

Diberitakan sebelumnya, kasus ini berawal saat Erival bekerja di Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Kijang pada 1 Desember 2015. Erival ditugaskan sebagai Mantri Kontrak Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Saat pertama bekerja, nama debitur fiktif atas nama Suwarni diajukan Erival. Nama debitur fiktif ini diperoleh dari Lemiana (bukan pegawai BRI dan disidang terpisah).

Meski fiktif, syarat berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) atas nama Suwarni berhasil diperoleh Erival. Data Suwarni merupakan hasil rekayasa Erival, Lemiana dan Harry Andrian (bukan pegawai BRI dan disidang terpisah). Seakan-akan, Suwarni memiliki usaha warung kelontong.

Pinjaman yang diajukan debitur fiktif sekitar Rp15 juta. Dokumen nasabah fiktif itu diajukan Erival pada 18 Januari 2016.

Setelah berkas dinyatakan lengkap, maka berkas tersebut diajukan ke Kepala BRI Unit Kijang. Setelah dinyatakan lengkap, berkas dikembalikan Kepala BRI Unit ke bagian Costumer Service.

Pengajuan pinjaman dicairkan sesuai permohonan pada 25 Januari. Sebagai imbalannya, uang Rp1 juta diberikan Erival kepada Lemiana.

Data administrasi berupa benda yang diagunkan dicuri dari nasabah lain di gudang dokumen. Bila ada pertanyaan dari bank, maka debitur itu fiktif harus menyampaikan jika pinjaman itu diajukan secara pribadi.

Perbuatan seperti ini dilakukan berulang kali hingga Desember 2016. Jumlah debitur fiktif yang pinjamannya dicairkan mencapai 56 orang.

Tiga debitur fiktif juga diajukan Harry Andrian. Total pinjaman debitur fiktif ini mencapai Rp41.458.119.

Dua debitur fiktif juga diajukan Lemiana sebanyak dua orang. Total pinjaman Rp33.333.067.

Erival juga menggunakan fasilitas kredit sekitar tujuh debitur fiktif dengan nilai Rp82.328.011. Lemiana menggunakan fasilitas kredit dua debitur Rp26.250.300.

Selain pinjaman KUR fiktif, cicilan setoran sembilan debitur lain yang dititipkan juga ditilap Erival. Nilainya mencapai Rp42.115.126.

Erival menggunakan dana KUR untuk bermain judi bola di internet.

Hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BKP), uang negara yang hilang Rp1.352.279.807.

SURYA

Spread the love

Berita terkait

*

*

Top