Calo proyek alkes Embung Fatimah disidang

Hakim Santonius Tambunan, ketua majelis yang menyidangkan Sisca, calo proyek RSUD Embung Fatimah. Foto: Surya.

TANJUNGPINANG (KP): Fransisca Ida Sofia Prayitno alias Sisca (50) menjalani sidang perdananya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Tanjungpinang, Selasa (3/4/2018). Mantan Marketing PT Nur Anda Risti ini didakwa jaksa karena menjadi calo proyek alat kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah.

“Sidang perdana sudah digelar dengan pembacaan surat dakwaan. Sidang ditunda hingga 13 April mendatang dengan agenda pemeriksaan saksi,” kata Ketua Majelis Hakim Santonius Tambunan usai persidangan.

Data di pengadilan, kasus ini berawal saat anggaran disediakan untuk pengadaan alat kedokteran, kesehatan, dan KB untuk RSUD Embung Fatimah Batam pada 2011. Anggaran Rp20 miliar itu berasal dari Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan (Ditjen BUK Kemenkes).

Fadilla Ratna Dumila diangkat menjadi Direktur RSUD Embung Fatimah pada 10 Juni 2011. Pada 8 Agustus 2011, Fadilla diangkat sebagai pejabat Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) untuk mengelola anggaran dari Ditjen BUK Kemenkes tersebut.

Tim penunjang Medis diangkat Fadilla untuk pengadaan alat kesehaan ini. Fadilla bertindak sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam pengadaan ini.

Rancangan Anggaran Biaya (RAB) sudah disusun oleh Direktur RSUD Embung Fatimah sebelumnya, yaitu Buralimar dan Asmoji. Namun, RAB ini tidak digunakan Fadilla.

Harga Perkiraan Sendiri (HPS) disusun sendiri berdasarkan brosur tanpa mengecek harga ke distributor. Setelah disusun, HPS ditetapkan sekitar Rp19.949.382.000.

Peralatan alat kesehatan yang akan dilelang ini antara lain, peralatan patologi anatomi sembilan unit, peralatan obgyn 22 unit, fisiotherapy 18 unit, peralatan UGD 13 unit, peralatan kamar operasi sebelas unit, peralatan anak 16 unit, dan peralatan laundry enam unit.

Lelang peralatan kesehatan ini diunggah di LPSE Pemko Batam. Melihat lelang ini, Sisca berniat menjadi peserta.

Namun, ia tidak memiliki perusahaan yang memenuhi syarat. Ia bekerja sama dengan Aditya Dwi Prasetya alias Adrip dan Karyadi dari PT Pradihta Sejahtera.

Sisca juga bekerja sama dengan Peter Cahyono dari PT Catur Pilar. Ketiga orang ini ditugaskan mengurus distributor. Sedangkan Sisca berperan mengurus keuangan.

Selanjutnya, Sisca berbincang dengan Sri Mulyati Ngesti Rahayu, Dirut PT Sangga Cipta Perwita, Ali Arno Daulay (almarhum) selaku Direktur Masmo Masjaya, dan Sumino selaku Dirut PT Trigels Indonesia. Ketiga bersedia meminjamkan perusahaan dengan kompensasi yang dijanjikan Sisca sekitar 2-3 persen dari nilai kontrak.

Tiga perusahaan ini berada di bawah kendali Sisca dalam proses lelang. PT Masmo Masjaya ditetapkan sebagai pemenang lelang pada 24 Oktober 2011.

Untuk mengamankan waktu pelaksanaan dan penyelesaian pengadaan, Fadilla dan Arno Daulay menandatangani dua surat kontrak perjanjian kerja, pada 4 dan 11 November 2011. Pekerjaan harus selesai dalam 35 hari kalender.

Fadilla memerintahkan, Sumalik, Panitia Pemeriksa dan Penerima Barang untuk memeriksa alat kesehatan yang sudah tiba di Batam pada 15 Desember 2011. Namun, Sumalik hanya membuka pintu kontainer dan memeriksa secara global. Pekerjaanya dinyatakan lengkap 100 persen.

Kenyataannya, pekerjaan belum selesai. Peralatan yang sudah lengkap baru diserahkan ke pihak RSUD Embung Fatimah pada 5 Februari 2012, terlambat 52 hari dari batas waktu.

Tanggal berita acara serah terima direkayasa dan dimajukan pada 15 Desember 2011. Sisca menerima pelunasan pembayaran pada 20 Desember sekitar Rp14.510.153.200 melalui rekening PT Masmo Masjaya. Total yang telah diterima Rp18.137.691.500.

Berdasarkan laporan hasil audit 22 Mei 2015, kerugian negara sekitar Rp5.604.815.696. Jumlah ini sudah dikurangi Rp20 juta sebagai biaya angkut barang sesuai putusan Pengadilan Tipikor Tanjungpinang. Dalam perkara ini, Fadilla divonis tiga tahun dan enam bulan penjara pada 16 September 2016.

SURYA

Spread the love

Berita terkait

*

*

Top