Oknum polisi Bintan divonis 10 tahun

Dari kiri: Abdul Kadir, Kurniawan Tambungan, dan Dwi Supriyanto. Kadir divonis paling berat yaitu 10 tahun penjara. Foto: Surya.

TANJUNGPINANG (KP): Abdul Kadir, oknum anggota Polres Bintan, divonis sepuluh tahun penjara oleh hakim Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Rabu (14/3/2018). Sementara itu, junior dan satu warga sipil, Kurniawan Tambunan dan Dwi Supriyanto, divonis delapan tahun penjara.

Ketua Majelis Hakim Jhonson Fredy Sirait yang ditemui usai persidangan mengungkapkan, hukuman Abdul Kadir dinaikkan dua tahun dari tuntutan jaksa. Sebelumnya, Kadir dituntut jaksa delapan tahun penjara. Surat tuntutan yang dibacakan itu dikirim pihak Kejaksaan Agung.

“Kami menghukum Abdul Kadir selama sepuluh tahun penjara,” ungkapnya.

Sedangkan hukuman yang dijatuhkan kepada Kurniawan Tambunan dan Dwi Supriyanto sesuai dengan tuntutan yang diajukan jaksa penuntut. Keduanya divonis delapan tahun penjara.

“Di samping hukuman badan, mereka juga didenda Rp1 miliar. Bila uang denda tak sanggup dibayar, hukuman mereka ditambah masing-masing satu tahun penjara,” ucap Hakim Jhonson.

Majelis hakim menilai, perbuatan ketiganya memenuhi unsur pasal 114 ayat 2 juncto pasal 132 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009. Pasal ini tentang persekongkolan mengedarkan narkotika golongan satu.

Sementara itu, mantan Kasat Narkoba Polres Bintan Dasta Analis, Indra Wijaya, Joko Arfianto, dan Tomy Andriadi masih dalam proses persidangan pasca agenda pembacaan tuntutan. Empat orang ini disidang dengan majelis hakim yang berbeda.

Dalam surat dakwaan jaksa terungkap kronologi penjualan barang bukti sabu-sabu ini. Berawal saat Dasta masuk ke ruangan Unit I usai pers rilis penangkapan sabu-sabu sebanyak 16 kg dengan tersangka Achyadi dan Ropik alias Yoyok (divonis 19 tahun penjara pada 15 Januari 2018) pada 22 Maret 2017, sekitar pukul 10.00. Di ruangan itu hadir Abdul Kadir, Kurniawan, dan Tomy.

Dasta bercerita tentang keinginannya menjual sabu-sabu barang bukti hasil sitaan itu. Sabu-sabu itu akan dijual kembali untuk mendapatkan uang.

Hasil penjualan digunakan untuk pembayaran cepu (orang yang memberi informasi mengenai sabu-sabu 16 kg itu). Uang hasil penjualan juga digunakan untuk dana operasional. Apalagi, Lebaran sudah dekat.

Dasta meminta tiga anggotanya itu untuk menyisihkan barang bukti yang di brankas ruang Joko sebagian dan jual untuk bayar cepu. Perintah itu disanggupi.

Joko Arfianto sebagai Bintara Urusan Adminstrasi Tata Usaha Sat Narkoba Polres Bintan yang juga memegang kunci brankas penyimpanan barang bukti setuju untuk melakukannya. Barang bukti sitaan sabu-sabu hasil tangkapan 16 kg tersebut, sebagian di simpan brankas ruangan Sat Narkoba Polres Bintan di bawah penguasaan Joko hanya sepuluh bungkus.

Sisanya disimpan di ruangan SIKEU Polres Bintan sebanyak 11 paket dari total 21 paket dalam perkara yang sedang dilakukan penyidikan atas nama tersangka Yoyok dan Su’iri.

Joko dihubungi Abdul Kadir dan Kurniawan pada 22 Maret 2017, sekitar pukul 16.30. Joko ditemui di kediamannya di Perumahan Hang Tuah, Tanjungpinang.

Joko diajak mengambil dan menyisihkan barang bukti sabu-sabu yang disimpan dalam brankas. Ketiganya bertemu di simpang gang.

Joko tak bisa ikut ke ke Mapolres Bintan di Bintan Buyu, Kabupaten Bintan. Pasalnya, ia ingin menjemput orang tuanya di bandara.

Kunci dan kode brankas diserahkan kepada Kurniawan dan Abdul Kadir. Keduanya tiba di Polres Bintan sekitar pukul 21.00.

Brankas penyimpanan barang bukti dibuka. Sepuluh bungkus sabu-sabu dirobek.

Bongkahan kristal putih dikeluar dari dalam bungkusan. Setiap sabu-sabu yang dikeluarkan ditimbang dan dicatat.

Sabu-sabu itu diganti tawas dengan berat yang sama. Kurniawan dan Kadir keluar dari Polres Bintan pada 23 Maret 2017, sekitar pukul 01.30.

Keduanya menuju Tanjunguban. Sesampainya di Jembatan Busung, peralatan yang digunakan membongkar sabu-sabu dibuang. Sabu-sabu dengan berat 0,5 kg diberikan Kadir kepada Kurniawan.

Selanjutnya, Kurniawan diantar ke kediamannya. Sabu-sabu itu diserahkan Kurniawan lagi di Sung Bakery pada 24 Maret 2017, sekitar pukul 19.30.

Keesokan harinya, kunci brankas diminta Joko kepada Kurniawan, sekitar pukul 10.00. Dengan membawa surat-surat, Joko masuk ke ruangan Dasta.

Dalam ruangan diberitahukan Joko, barang bukti sudah disisihkan Kurniawan dan Abdul Kadir. Namun, Joko tidak tahu jumlah yang diambil.

Sebelumnya, sekitar pukul 09.30, Dasta sudah bertemu dengan Kurniawan. Sabu-sabu yang diambil disembunyikan di dalam tasnya.

Namun, Kurniawan ketakutan. Kurniawan diperintahkan menyerahkan sabu-sabu itu kepada Kadir.

Informasi diperoleh dari Indra Wijaya pada 3 April 2017. Sabu-sabu yang diambil Kurniawan dan Kadir sudah laku terjual sebanyak 200 gram.

Sabu-sabu itu dijual ke Andi Nurdin alias Uting (DPO) seharga Rp50 juta. Namun, sabu-sabu itu belum dibayar.

Pembayaran akan dilakukan pada 1 Mei, sekitar Rp35 juta. Hal itu dilaporkan Kadir kepada Dasta.

Sisanya Rp15 juta dibayar dua hari lagi. Indra disuruh Dasta mengambil uang hasil penjualan 200 gram sabu-sabu itu dari Kadir. Uang itu diserahkan Indra kepada Dasta Rp32,5 juta di dalam mobil, saat keluar makan malam.

Sisanya Rp2,5 juta digunakan untuk membeli kain gorden di ruangan unit 1, ruangan KBO (Kepala Bagian Operasional), dan ruangan URMINTU, dan membayar papan panel anggaran Sat Narkoba Polres Bintan.

Sisa sabu-sabu yang belum terjual sekitar 300 gram. Sabu-sabu itu masih tersimpan di dalam brankas.

Pada 14 Juni, sekitar pukul 10.00, Dasta masuk ke ruangan penyidik Unit I. Disampaikan, Lebaran sudah dekat. Dasta sudah didesak cepu agar sisa uang dibayar.

Pada 18 Juni, Kadir berangkat ke kediaman Andi Nurdin alias Uting sekitar pukul 17.30. Di kediaman Uting, ada Supriyanto yang sedang menghubungi pembeli sabu-sabu seperempat ons.

Uang pembeli itu ada Rp11 juta. Telepon seluler Supriyanto diambil alih Uting.

Si pembeli diminta mentransfer uang terlebih dahulu. Setelah itu, sabu-sabu itu dikirim ke Tanjungpinang.

Sabu-sabu di dalam bankas diambil Joko dan diserahkan ke Indra. Barang haram itu dioper lagi ke Kadir.

Selanjutnya, Kadir berangkat ke kediaman Uting di Tanjunguban. Setelah selesai menimbang dan membagi, Kadir berangkat ke Tanjungpinang.

Kadir dihubungi Supriyanto sekitar pukul 18.30. Ia menanyakan kunci mobilnya.

Kadir kembali ke kediaman Uting sekitar pukul 20.30. Kadir baru tahu jika Supriyanto juga pergi mengantar sabu-sabu yang dipesan temannya seharga Rp11 juta.

Sementara itu, dua anggota Sat Narkoba Polres Tanjungpinang mendapat informasi dari sumber terpercaya, sekitar pukul 18.00. Disampaikan, ada sebuah mobil Toyota Kijang Innova BP 1820 BY silver metalik bergerak dari Bintan.

Mobil itu dikemudikan seorang pria bernama Dwi Supriyanto. Informasi tersebut dilaporkan ke Kasat Narkoba AKP M Jaiz.

Anggotanya dikerahkan melakukan penyelidikan. Mobil dengan ciri-ciri yang disebutkan terlihat melintas di simpang lampu merah Batu 6, sekitar pukul 20.15. Mobil itu dibuntuti hingga ke Jalan Bukit Barisan.

Saat berhenti, pengemudinya ditangkap dan digeledah. Satu paket sabu-sabu ditemukan di atas dashboard dan dua paket di kotak sampung kursi pengemudi.

Diakui Supriyanto, ia dalam perjalanan mengantar pesanan Barat di Kelurahan Tanjung Ayun Sakti, Kecamatan Bukit Bestari. Barang haram itu diakui Dwi diperoleh dari Kadir, anggota Sat Narkoba Polres Bintan, untuk dijual. Dwi diamankan ke Mapolres Tanjungpinang.

Akhirnya, Kadir ditangkap kediaman Kurniawan di Jalan Lembah Sari, Kelurahan Tanjunguban pada 19 Juni 2017, sekitar pukul 04.45.

Pada 19 Juni itu, informasi diterima Dasta dari Indra. Disampaikan, Kadir dan Kurniawan ditangkap anggota Sat Narkoba Polres Tanjungpinang.

SURYA

Spread the love

Berita terkait

*

*

Top