Ketua Stikom IGA divonis 3 tahun penjara

Mecca Rahmady berkonsultasi dengan penasihat hukumnya di Pengadilan Tipikor Tanjungpinang, pada 30 Januari lalu. Foto: Surya.

TANJUNGPINANG (KP): Mecca Rahmady (43), ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi International Gurindam Archipelago (Stikom IGA) ini divonis tiga tahun penjara. Ia terbukti melakukan tindak pidana korupsi atas dana hibah yang dikucurkan pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada 2013 lalu.

“Terdakwa Mecca dihukum tiga tahun penjara oleh majelis hakim. Sebelumnya, kami menuntut tiga tahun dan enam bulan penjara. Namun, majelis hakim berpendapat lain,” kata Jaksa Penuntut Umum Gustian Juanda Putra usai persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Tanjungpinang, Senin (26/2/2018).

Mecca juga didenda Rp50 juta. Bila uang denda tak dibayar, hukuman Mecca ditambah satu bulan kurungan.

Mecca juga diwajibkan mengganti kerugian negara Rp730 juta. Namun, uang yang dikorupsi hanya dapat dikembalikan Mecca Rp25 juta. Jika kerugian negara tidak dikembalikan seluruhnya, hukuman Mecca ditambah satu tahun dan enam bulan penjara.

Diberitakan sebelumnya, kasus ini berawal saat Stikom IGA Tanjungpinang menerima dana Program Hibah Pembinaan Perguruan Tinggi Swasta (PHP-PTS) dari Direktorat Kelembagaan dan Kerjasama Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kemendikbud pada 2013 lalu sekitar Rp750 juta. Setelah menerima dana tersebut, Mecca memindahbukukan dana hibah itu dari rekening kampus ke rekening PT Detha Prima sebesar Rp384.842.200 pada 9 Oktober 2013. Mecca menarik uang tersebut ditemani Rudi Iswandi di Bank Syariah Mandiri cabang Tanjungpinang.

Selanjutnya, dana hibah yang berada di rekening kampus kembali ditransfer Mecca ke rekening CV Mutiara Mandiri Creasindo (MMC) yang berada di Bank Muamalat Bogor sebanyak dua kali, Rp75 juta dan Rp100 juta pada 21 Oktober. Maryam, rekannya yang berada di Jakarta, diminta memindahkan dana tersebut dari CV MMC ke rekening pribadi di BCA.

Pemindahan dana ini guna memudahkan terdakwa menarik dana tersebut menggunakan kartu ATM milik saksi Maryam. Pada tanggal itu juga, Maryam ditemui Mecca di Jakarta.

Kartu ATM BCA Maryam diminta. Dana hibah yang tersimpan di rekening pribadi Maryam ditransfer ke rekening pribadi Mecca.

Sisa dana hibah kembali ditransfer Mecca ke rekening CV MMC pada 6 November 2013, sebesar Rp30 juta dan Rp75 juta. Maryam kembali diminta memindahkan dana dari CV itu ke rekening pribadinya. Lagi, Maryam ditemui Mecca pada 6 November 2013.

Kartu ATM Maryam diminta untuk mentrasfer dana itu ke rekening Mecca. Kemudian, Mecca kembali ke Tanjungpinang.

Saat di kampus, Cut Isma diminta Mecca menarik dana hibah Kemendikbud itu dari rekening kampus sebesar Rp100 juta pada 27 Desember 2013. Setelah ditarik, uang itu diserahkan ke Mecca.

Pada 15 Januari 2014, Mecca diminta pihak Direktorat Kerjasama dan Kebudayaan Ditjen Dikti Kemendikbud membuat laporan PHP-PTS yang diterima Stikom IGA. Laporan penggunaan dana dikirim Mecca ke Ditjen Dikti Kemendikbud pada 22 Maret 2014.

Dalam laporannya, dana itu seolah-olah terserap seluruhnya. Rupanya, laporan tersebut tidak sesuai dengan panduan yang dibuat Direktorat Kelembagaan dan Kerja Sama Ditjen Dikti Kemendikbud.

Laporan penggunaan dana hibah itu belum ditandatangani Mecca. Sehingga, laporan itu tidak sah.

Hasil pemantauan tim dari Ditjen Dikti, dana hibah tersebut tidak pernah dilaksanakan sesuai proposal yang diajukan Mecca. Dokumen laporan juga tidak bisa dilihatkan dan dipertanggungjawabkan Mecca. Temuan Badan Pengawas Keuangan (BPK), kerugian negara sekitar Rp730 juta.

SURYA

Spread the love

Berita terkait

*

*

Top