Kurir ekstasi asal Kendari didakwa jaksa

Rizal Rinansyah Nimbang alias Reza usai mendengarkan dakwaan jaksa di Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Rabu (21/2/2018). Foto: Surya.

TANJUNGPINANG (KP): Rizal Rinansyah Nimbang alias Reza menjalani sidang perdananya di Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Rabu (21/2/2018). Mahasiswa asal Kendari, Sulawesi Tenggara, ini didakwa jaksa karena berperan sebagai kurir pil ekstasi.

Jaksa Penuntut Umum Gustian Juanda Putra dalam persidangan itu memaparkan perbuatan Reza. Berawal saat Reza dihubungi Orlando (buron) melalui pesan BlackBerry Messenger pada 25 November 2017, sekira pukul 15.30.

Reza diminta bersiap untuk pekerjaan berikutnya, sebagai kurir pil ektasi. Kali ini, pil ekstasi itu dibawa ke Jakarta.

Reza dikirimkan nomor tiket pesawat menuju Padang, Sumatera Barat. Sesampainya di Padang, Raza diminta menemui seseorang bernama Arman di salah satu hotel.

Setelah bertemu, keduanya berangkat ke Tanjungpinang, Kepulauan Riau, pada 28 November. Keduanya tiba sekitar pukul 11.00.

“Sesampainya di Tanjungpinang, terdawa dan Arman menunggu kabar selanjutnya dari Orlando. Karena lama menunggu, keduanya mengambil kamar 2213 di Hotel Pelangi,” ungkap JPU Gustian.

Setelah keduanya berada di kamar hotel, kabar dari Orlando diterima. Ternyata, tiga kamar di hotel yang sama juga dipesan Orlando yaitu 2202, 2204, dan 2205.

Arman pamit kepada Reza hendak mengambil eksatasi di Hotel Comfort sekitar pukul 18.30. Ekstasi itu akan dibawa ke Jakarta.

Arman kembali dengan membawa tas bertuliskan “Nike” sekitar pukul 20.00. Tas itu berisi tujuh bungkus pil ekstasi berlogo Hello Kitty warna pink.

Tas itu disimpan Arman di atas plAfon kamar mandi. Keesokan harinya, Reza dan Arman pindah ke kamar 2204 pada 29 November, sekitar puukul 12.00.

Tujuh bungkus pil ekstasi itu dipindakan Arman ke dalam lemari pakaian kamar yang baru dihuni itu. Kemudian, empat orang pria datang ke kamar 2204, sekitar pukul 23.30.

Empat pria ini adalah Roby Hulhaq Arsagani alias Dika, Rudi Poler Pandiangan, Padly Sudirman alias Wahyu, dan Muhammad Rizaldi alias Ruddy Chaminai.

“Keempat mengatakan bahwa mereka disuruh Orlando untuk mengambil kunci kamar 2202 dan 2205. Diungkapkan, mereka juga bekerja untuk Orlando membawa ekstasi yang sudah diambil Arman,” sebut JPU Gustian.

Empat orang ini diberikan Arman satu bungkus pil ekstasi pada 30 November, sekitar pukul 01.00. Bungkusan pil ekstasi itu dicoba diperagakan disembunyikan di celana dalam.

Setelah selesai memperagakan, bungkusan berisi pil ekstasi itu kembali disimpan.

Pagi harinya, sekitar pukul 09.00, Arman, Rudi, Wahyu, dan Ruddy berangkat ke Bandara Raja Haji Fisabilillah. Keempatnya akan terbang ke Jakarta.

Pil ekstasi sudah disembunyikan keempatnya di celana dalam. Sedangkan Reza dan Dika masih di kamar hotel.

Pasalnya, perintah bergerak belum diterima dari Orlando. Jadi, ada tiga bungkus pil ekstasi yang masih berada di kamar hotel.

Rudi dan Wahyu kembali ke kamar hotel sekitar pukul 10.00. Disampaikan, Ruddy ditangkap di bandara. Sedangkan Arman sedang mencari kamar hotel lain.

“Arman mengabarkan bahwa ia sudah memesan kamar di Hotel Kaputra di Jalan Wiratno. Terdakwa Reza menyembunyikan bungkusan pil ekstasi di plafon kamar mandi 2204,” jelas JPU Gustian.

Ketiganya bergegas ke Hotel Kaputra. Reza dan Wahyu masuk ke kamar 322.

Sedangkan Arman dan Rudi Poler di kamar 320. Kamar keduanya digerebek pihak kepolisian sekitar pukul 13.00.

Kelimanya ditangkap. Lima bungkusan pil ekstasi dengan berat 3,5 kg disita polisi.

Usai mendengarkan dakwaan jaksa, Ketua Majelis Hakim Guntur menanyakan keberadaan lima terdakwa lain. Dijelaskan JPU Gustian, kelimanya belum dapat disidangkan karena masih penelitian berkas.

SURYA

Spread the love

Berita terkait

*

*

Top