Dua penganiaya pebalap liar disidang

Dua pelaku penganiayaan pebalap liar saat rilis kasus di Polres Tanjungpinang pada 20 Januari lalu. Foto: Surya.

TANJUNGPINANG (KP): JP dan AJ, dua remaja penganiaya pebalap liar menjalani sidang perdananya di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, Kamis (15/2/2018). Keduanya didakwa jaksa dengan pasal penganiayaan.

Humas PN Tanjungpinang Hakim Santonius Tambunan usai persidangan mengungkapkan, dua terdakwa berinisial JP dan AJ. Surat dakwaan bagi keduanya sudah dibacakan.

Hasil hikmat dari Balai Pemasyarakatan Tanjungpinang juga dibacakan dalam persidangan itu. Terdakwa JP didampingi penasihat hukum Rio Irwan Saputra. Sedangkan terdakwa AJ didampingi pengacara Sri Ernawati yang ditunjuk majelis hakim.

Eksepsi diajukan penasihat hukum terdakwa JP. Sehingga, persidangan untuk pembacaan eksepsi ini ditunda ke 19 Februari.

“Penasihat hukum terdakw AJ tidak mengajukan eksepsi. Sehingga, persidangan dilanjutkan dengan pembuktian dan pemeriksaan saksi pada 21 Februari,” ungkap Hakim Santo.

Dalam rilis pihak Polres Tanjungpinang pada 20 Januari lalu, perbuatan kedua remaja ini dipaparkan. Berawal saat dua kelompok anak muda melintas di Jembatan I Dompak pada 18 Januari malam.

Kelompok lain juga bergerak sembari menggeber-geber sepeda motornya. Akibatnya, kelompok yang digeber emosi. Apalagi, ada kelompok lain yang memanas-manasi situasi.

Dua orang dari kelompok yang emosi ini yaitu AJ (15) dan JP (17) berpisah dari rombongan kelompoknya. Sepeda motor yang dikendarai JP menuju ke arah Mal Ramayana. Dua balok kayu dipegang AJ di posisi dibonceng.

Saat kelompok lain itu melintas, batangan kayu yang dipegang AJ dipalangkan ke arah kelompok tersebut. Akibatnya, kayu tersebut mengenai kepala Johan.

Karena benturan tersebut, Johan terjatuh dari sepeda motor. Kepalanya bocor dan otaknya berceceran di jalan. AJ dan JP tidak mengetahui kondisi korban malam itu.

Informasi ini diperoleh anggota Satuan Lalu Lintas. Korban segera dilarikan ke rumah sakit. Johan meninggal dunia saat menjalani perawatan medis.

Awalnya, informasi yang diterima anggota Sat Lantas hanya kecelakaan lalu lintas. Dari beberapa orang saksi ditemukan kejanggalan.

Tim Sat Reskrim diturunkan ke lokasi. Olah tempat kejadian perkara digelar di Jembatan I Dompak.

Dari keterangan para saksi, Johan meninggal dunia bukan akibat kecelakaan lalu lintas. Tetapi, adanya suatu tindakan menghalangi laju sepeda motor Johan.

Dari keterangan para saksi tersebut, dua orang ditangkap yaitu AJ dan JP. Dalam pemeriksaan terungkap bahwa salah seorang saksi diintimidasi salah seorang tersangka. Alibi yang dibuat seakan-akan kayu tersebut dibuang ke tengah jalan oleh AJ.

Saat diperiksa pertama kali, AJ beralibi jika niat awalnya hanya untuk mengadang. Tetapi, ia tahu sebenarnya ada satu sepeda motor yang sedang melaju.

SURYA

Spread the love

Berita terkait

*

*

Top