Mantan Bupati Anambas dituntut 18 bulan

Mantan Bupati Anambas Tengku Mukhtaruddin saat persidangan di Pengadilan Tipikor Tanjungpinang. Foto: Surya.

TANJUNGPINANG (KP): Tengku Mukhtaruddin (61) dituntut satu tahun dan enam bulan penjara oleh jaksa penuntut umum Kejaksaan Tinggi Kepulauan Riau, Rabu (14/2/2018). Jaksa menilai, mantan bupati Anambas ini terbukti melakukan tindak pidana korupsi.

“Menurut jaksa, perbuatan terdakwa memenuhi unsur pasal tiga Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Jaksa mengajukan tuntutan terhadap Tengku Mukhtaruddin selama satu tahun dan enam bulan penjara,” kata Humas Pengadilan Negeri Tanjungpinang Hakim Santonius Tambunan, Kamis (15/2/2018).

Mukhtaruddin juga didenda Rp50 juta. Bila denda tak sanggup dibayar, hukumannya ditambah tiga bulan kurungan. Kerugian negara sudah dikembalikan Mukhtaruddin sesuai nilai hadiah yang diterimanya dari Bank Syariah Mandiri cabang Tanjungpinang.

“Jaksa juga meminta agar terdakwa segera ditahan,” sebut Hakim Santo.

Agenda sidang berikutnya dijadwalkan pada 26 Februari nanti. Perubahan jadwal sidang karena Mukhtaruddin harus memeriksakan kesehatannya pada 21 Februari.

Diberitakan sebelumnya, perkara ini berawal saat Khoirur Rijal selaku Kepala Cabang Bank Syariah Mandiri Tanjungpinang (dituntut jaksa selama dua tahun penjara pada 30 Oktober lalu) dan Silvia Permatasari bertemu Mukhtaruddin selaku Bupati Anambas di Hotel Menara Peninsula Jakarta Barat pada Januari 2011. Kedua belah pihak membicarakan rencana penempatan kas umum daerah Pemkab Anambas di Bank Syariah Mandiri (BSM) cabang Tanjungpinang.

Dalam pertemuan itu, Khoirur Rijal menawarkan produk-produk perbankan. Produk perbankan yang dipilih yaitu nisbah (bunga bagi hasil).

Namun, Mukhtaruddin meminta dalam bentuk barang. Sebab, ia ingin memberikan sepeda motor Honda tipe Mega Pro sebanyak 25 unit ke setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).

Setelah disepakati, rekening kas umum daerah Pemkab Anambas dibuat pada 2 Februari 2011 di BSM Tanjungpinang. Kepala Bagian Keuangan sekaligus Bendahara Umum Daerah (BUD) Kabupaten Anambas Ipan memerintahkan bawahannya, Surya Darma Putra mengambil dokumen pembukaan rekening giro di BSM Tanjungpinang. Berkas-berkas tersebut dibawa pulang ke Anambas untuk dilengkapi dokumen dan tanda tangan pembukaan rekening.

Setelah dokumen dilengkapi, saldo awal dibuka sebesar Rp40 miliar pada 28 Februari. Saldo ditambah Rp20 miliar pada 1 Maret.

Khoirur Rijal membuat surat ke Divisi Treasuri dan Perbankan Internasional di kantor pusat BSM. Surat itu tentang pengajuan permohonan pemberian special treatment untuk penempatan dana kas umum daerah Pemkab Anambas.

Surat itu disetujui pada 8 Maret. Selanjutnya, Pemkab Anambas menyimpan dana dalam bentuk deposito sebesar Rp30 miliar pada 4 April.

Atas penempatan dana itu, pihak BSM Tanjungpinang memberikan hadiah berupa 25 unit sepeda motor. Pembagian hadiah sepeda motor itu diurus Surya Darma Putra atas perintah Mukhtaruddin.

Sepeda motor itu dibagikan kepada Ipan (dituntut jaksa satu tahun dan enam bulan pada 30 Oktober lalu), Radja Tjelak Nur Djalal (Sekda Anambas), Khoirur Rijal, Silvia Permatasari (pegawai BSM Tanjungpinang), dan Mukhtaruddin (dua unit). Sedangkan sisa sepeda motor sebanyak 18 unit dijual dengan harga Rp262 juta.

Masih atas perintah Mukhtaruddin, uang hasil penjualan sepeda motor dibagi-bagi dalam bentuk tunai. Mukhtaruddin mendapat Rp222 juta, Ipan Rp15 juta, Radja Tjelak Nur Djalal Rp15 juta, dan Surya Darma Putra Rp10 juta. Sepeda motor hadiah dari BSM Tanjungpinang ini tidak didaftarkan sebagai aset Pemkab Anambas.

Sekitar pertengahan 2011, atas perintah Ipan, Surya Darma Putra kembali diminta menemui Silvia. Pertemuan itu membahas hadiah mobil Toyota Avanza dari deposito yang disimpan.

Kemudian, Pemkab Anambas diminta menyimpan dana deposito Rp30 miliar pada 10 Juli. Mobil Toyota Avanza sebagai hadiah dari bank atas penempatan dana dalam bentuk deposito diserahkan ke Pemkab Anambas pada 14 Desember.

Namun, mobil Toyota Avanza BP 1594 TG itu atas nama Galih Soeriswanto. Mobil itu diantar ke kediaman Ipan di daerah Kijang, Bintan Timur. Mobil ini tidak didaftarkan sebagai aset Pemkab Anambas.

Kemudian, pada 21 November 2011, penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara BSM Tanjungpinang dengan Pemkab Anambas ditandatangani. MoU itu tentang Jasa-jasa Perbankan.

Keesokan harinya, Silvia bersama Khoirur Rijal bersilaturrahmi ke kediaman Mukhtaruddin di Tarempa. Mukhtaruddin berniat menempatkan dana baru.

Hadiah yang diminta berupa mobil Toyota Fortuner. Awal 2012, Ipan memerintahkan Surya Darma Putra menemui Silvia di BSM Tanjungpinang.

Pertemuan itu membahas hadiah mobil Fortuner. Pada 28 Maret 2012, Pemkab Anambas menempatkan dana Rp202,5 miliar dalam bentuk giro autosave dan deposito.

Sesuai ketentuan BSM, nasabah berhak mendapatkan nisbah (bagi hasil) sebesar 55 persen atas penempatan dana di giro autosave bila saldo rata-rata di atas Rp5 miliar. Pemberian hadiah berupa mobil Fortuner diajukan ke BSM pusat pada 13 April.

Pengajuan hadiah ini disetujui. Khoirur Rijal mencari mobil Toyota Fortuner di Jakarta.

Pasalnya, mobil jenis ini belum ada di Tanjungpinang maupun Batam. Mukhtaruddin memerintahkan Ipan membuat surat kuasa dan memberikan kuasa kepada Tjam Memy Theresia.

Nama ini dicantumkan di STNK dan BPKB mobil Fortuner B 1002 BJG. Surat kuasa tersebut ditandatangani oleh pemberi kuasa Ipan.

Mobil ini diserahkan Khoirur Rijal ke sopir Mukhtaruddin bernama Wawan di Jakarta pada 27 April. Mobil ini digunakan Mukhtaruddin untuk keperluan pribadi, termasuk untuk kegiatan sosialisasi calon Gubernur Riau pada 2013. Mobil ini tidak ada dalam daftar aset Pemkab Anambas.

Perbuatan Mukhtaruddin dengan Ipan dan Khoirur Rijal terhadap hadiah dari BSM Tanjungpinang mengakibatkan kerugian negara sekitar Rp1.367.497.166.

SURYA

Spread the love

Berita terkait

*

*

Top